Showing posts with label mencatat. Show all posts
Showing posts with label mencatat. Show all posts

Sunday, 14 April 2019

Pengalaman Meraih Beasiswa S3 Luar Negeri LPDP






Mohon ijin berbagi pengalaman untuk teman-teman.

Saya adalah salah seorang penerima beasiswa LPDP. Saat ini saya melanjutkan studi S3 atau PhD di UoW atau the University of Wollongong, NSW, Australia.



Saya sekarang ini sedang bersekolah di School of Health and Society. School ini berada di bawah Faculty of Social Sciences di UoW.

Untuk bisa sampai ke sini, jalannya cukup panjang. 
Saya akan coba ceritakan satu persatu perlahan-lahan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk teman teman yang sedang berjuang. Kalau menurut yang saya alami sendiri, secara umum, ada 3 tahapan utama selama proses menuju sukses meraih beasiswa LPDP:

Menyiapkan berkas, Mengirim Berkas, dan Tes Wawancara.

Silakan ikuti selanjutnya jika merasa tertarik.








UoW Main Campus, 15 April 2019, 12.03 pm

Sunday, 13 August 2017

Tips Mengurus BPJS PNS Pindah Puskesmas di Makassar


 
Dokumentasi Pribadi, a piece of healthy 'snack' for waiting
Bolehkah memindahkan fasilitas kesehatan layanan pertama (Faskes 1) BPJS untuk satu orang anggota keluarga saja? Ternyata boleh. Buktinya pagi itu, pas setelah nyasar karena ternyata alamat kantor BPJS Makassar di Jl. A. P. Pettarani No.78, Tamamaung, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231 Phone(0411) 4212938 ternyata tidak melayani lagi Peserta PNS.

Saya terpaksa naik bentor ke kantor BPJS Askes PNS di daerah Boulevard depan Mall Panakkukang. Untung Bentor cukup familiar dengan rute pindah tersebut sehingga urusan bisa selesai dengan baik.

Jangan lupa ambil nomor antrian dan pilih form yang sesuai untuk pindah faskes. 
Form-nya disediakan koq, banyak, jangan kuatir.

 Berkas yang harus disiapkan seperti biasa:

1.Fotokopi  KTP (untuk anak, boleh KTP orang tua)
2. Fotokopi Kartu Keluarga
3. Kartu BPJS Askes yang bersangkutan


Meskipun tidak ada air mineral gratis untuk pengunjung, antrian di kantor ini relative masuk akal. Apalagi ruang tunggunya full AC. .

Saran saya, tetap siapkan bahan-bahan bermanfaat untuk bisa mengisi waktu saat menunggu. 

A book is always a very valuable friend. Trust me!



Thursday, 8 December 2016

PENGALAMAN FAMILY TRIP KE MALAYSIA



Berangkat sendiri atau berdua suami tentu jauh lebih mudah dan murah daripada berangkat dengan keluarga besar yang beranggotakan anak anak dan orang tua. Tetapi semua ada seninya, dan tentu banyak pahalanya jika dikerjakan dengan gembira dan ikhlas untuk menggembirakan.

Kami sekeluarga melakukan trip Makassar - Malaysia – Singapura 7 hari pada November 2016 yang lalu. Tujuannya adalah silaturahmi keluarga dan menghadiri acara wisuda suami di University Kebangsaan Malaysia. Rombongan berjumlah 9 orang terdiri dari 4 kanak-kanak (8-12 tahun), 4 dewasa (30-40an tahun) dan 1 orang nenek 70 tahun.

Ini beberapa tipsnya.


1. BELI TIKET JAUH-JAUH HARI

Beberapa bulan sebelumnya, sekitar Juni 2016, kami sudah beli tiket PP Air Asia (UPG-KUL). Karena 2 anggota beli tiket terpisah, kami belinya untuk 7 orang, harga tiket PP sudah termasuk makan tetapi tanpa bagasi adalah total sekitar 13 juta. Yang artinya kurang dari 2 juta per orang. Harga bisa lebih rendah lagi jika rajin memantau tiket pesawat yang lagi promo.


2. PESAN PENGINAPAN JAUH-JAUH HARI

Ini terutama penting untuk rombongan sebab belum tentu kita bisa dapat satu hotel yang siap menampung rombongan sekaligus terutama pada waktu-waktu peak season. Bulan November kemaren boleh dianggap peak season di area sekitar UKM sebab ribuan orang datang sekaligus untuk seremoni wisuda. Hotel-hotel penuh. Rumah-rumah student Indonesia penuh. Untung kami dapat satu unit 3 kamar di Pangsapuri UKM, Taman Tenaga, Bangi.
Kamarnya di Lantai 2, tanpa AC tapi ada built-in kipas angin tiap ruangan, ruang dapur tanpa fasilitas masak ataupun kulkas, 2 kamar mandi dan ruang tamu lengkap dengan TV, sofa, meja dan satu set kursi dan meja makan.

Lapangan Taman Tenaga, seberang surau Asy Syakirin. Bangunan lantai 2 di belakang sana adalah Pangsapuri UKM

Harganya kalo tak salah RM 90 semalam. Murah bukan?
Untuk menginap 3 malam di sini, kami bayar sekitar RM 270. Ini linknya. http://www.ukm.my/perumahan/pangsapuri-ukm-taman-tenaga/



3. PILIH ALAT TRANSPORTASI LOKAL YANG TERMURAH DI ANTARA SEMUA PILIHAN

Jumlah 9 orang dengan keragaman usia kayak rombongan kami lumayan muat untuk 1 mobil ukuran besar. Selain bus, kami memilih menyewa driver dan mobilnya untuk seharian. Karena drivernya kebanyakan teman-teman mahasiswa Indonesia yang meskipun cari uang tambahan tapi  memiliki solidaritas tinggi pada kantong penumpang sebangsa setanah air, kami bisa dapat tumpangan dengan harga sekitar RM 300 untuk muter-muter seharian. Oh ya, ditambah biaya bensin, sekitar RM 30. 

Sebenarnya bisa lebih murah dengan bus dan transportasi public, tapi tidak memungkinkan untuk rombongan kami yang mixed orang tua dan anak-anak. Pertimbangan untuk nyari yang praktis dan ramah untuk fisik orang tua dan anak, itu menjadi penentu.


Contoh tiket bus sekali jalan dari Hentian Kajang ke Mydin

Kami juga pernah mencoba naik transportasi public. Biaya tiket bisa dicek di sini http://www.myrapid.com.my/tickets-fares/bus . PP dari penginapan kami menuju Twin Tower, KLCC. Ini gambaran biaya yang harus kami keluarkan:

No
Uraian
Alat Transport
Harga/ Biaya
Keterangan
BERANGKAT
1.
Pangsa Puri – Hentian Kajang
Kaki
Gratis
Jalan pelan-pelan aja, hitung hitung olah raga J
2
Hentian Kajang-Mydin
Bus u40
Dewasa @ RM 3
Anak @ RM 1.5
Total biaya  RM 21
3
Mydin-Twin Tower
Taxi
@RM 12

(Itu hasil negosiasi. Pas dijalani ternyata lebih murah pake argo langsung, cuma RM8 L)
Sebenarnya 1 taxi muat 4 orang, tapi karena kami  9 orang n “agak tebel” jadi harus 3 taxi.
TOTAL RM 36
PULANGNYA
4.
Twin Tower-Masjid Jamek
Bus
Dewasa @ RM 1
Anak @ RM 0.5
Total biaya  RM 7
5.
Masjid Jamek-Mydin
Kaki
Gretong, cuma pegel dan nyos-nyosan.
Tapi asyik liat-liat jalan dan gedung.
Ternyata lumayan jauh…
Kami salah perhitungan, dipikir dekat. Maaf ya  krucil dan krutu, hehe..
6
Mydin – Hentian Kajang
Bus U40
Dewasa @ RM 3
Anak @ RM 1.5
Total biaya  RM 21
7
Hentian Kajang-Pangsapuri UKM
Kaki
Gratis J



TOTAL


RM 85


4. TETAP SEHAT DENGAN MAKANAN SEHAT

Makanan sehat tidak selalu harus yang mahal. Malaysia punya sejuta kuliner lezat yang menawan selera. Buah-buahan pun harganya relatif murah . Terlebih jika dibeli di area Pasar Malam.

Pasar Malam merupakan pasar yang hanya dibuka selama beberapa jam dari awal malam hingga sekitar pukul 10 malam. Banyak jenis makanan bisa diperoleh dengan harga betul betul miring di lokasi pasar malam. Pasar jenis ini tidak selalu terbuka setiap malam di tempat yang sama. Lokasinya berpindah pindah.
Khusus untuk area sekitar Hentian Kajang, jadwalnya adalah Senin dan Jumat. Dulu saat suami masih sekolah, kami sesekali mengejar belanja ke Pasar malam di lokasi lain seperti di Bandar Baru Bangi.

Makan seabreg ntuk 9 orang di restoran Ali Maju, KLIA, ini kami bayarnya kurang dari Rp. 100 ribu



Harga murah makanan sangat membantu. Sekedar contoh, anggur merah yang harga per kemasan kecilnya bisa Rp. 30-40an ribu di supermarket, di lokasi pasar malam boleh didapat dengan harga RM 5 per longgok  alias tak sampai Rp. 20 ribu.


Sarapan roti canai dan teh tarik. Warung biasanya sudah buka lepas subuh.

Sarapan hemat juga dimungkinkan dengan tebaran kedai yang menjajakan teh tarik dan roti canai sejak lepas subuh. Harga sebiji roti canai dan kuahnya  hanya sekitar RM 1.2 saja. Belum lagi restoran restoran yang menjajakan makanan yang harganya terjangkau di berbagai tempat. Kami pernah makan siang bersembilan di sebuah restoran tak jau dari airport dan yang kami bayar “hanya” tak sampai Rp. 200 an ribu. 

Jajanan berupa biscuit, kue dan minuman pun dapat diperoleh di berbagai toko seperti Speedmart, Circle K dan Mydin.

Jadi,
berangkat berombongan tak harus berbiaya sangat mahal jika direncanakan dengan baik. Kami pulang setelah 7 hari muter-muter Malaysia Singapura. Berapa biaya untuk semua itu? Kami pernah membuat perkiraan awal bahwa biayanya mungkin sekitar 30-40 juta. 
Alhamdulillah saat dijalani, sepertinya tak sampai segitunya.

Wednesday, 29 October 2014

Tentang sebuah nama

Bahagian Pertama dari Serial Masuk TV

Sulit membayangkan bagaimana asal muasalnya untuk bisa masuk Tipi dengan gaya. Selain dari pengalaman di-shooting dari kejauhan, larut bersama mereka yang histeris disorot kamera, pengalaman pertamaku masuk Tipi, tampaknya, adalah ketika diwawancarai sebagai dokter di tenda pengungsian kasus bentrok Aralle Tabulahan Mambi, Polmas, Sulsel. Itu tahun 2003. Masa indah penganten baru yang dinikmati dengan bolak-balek ke lokasi pengungsi.

Saat itu, Syahrul Yasin Limpo datang sebagai wakil gubernur Sulsel meninjau lokasi pengungsian di kecamatan Darma, Polmas. Datang bersama helikopternya yang membuat warga kucar-kacir menonton adalah serombongan wartawan. Mereka bekerja sigap, efektif dan buru-buru. Saya pernah magang jadi wartawan abal-abal di sebuah koran kampus, jadi tahu tak lama lagi mereka pasti menghampiriku.

Berdiri di antara kertas resep yang dibuat dari guntingan kertas bekas pakai, tabung dan kaleng obat, adalah saya yang mendadak disergap gugup. Saya memakai baju kaos dan celana training spack, lusuh karena sudah dipakai keluar masuk barak. Tapi itulah pakaian kebesaran petugas kesehatan kalo membutuhkan kerja sigap di lapangan. Saya pasti jelek sekali hari itu. Berminyak dan keringatan.

Seorang teman melaporkan pengamatannya atas penampilan saya dalam berita siang RCTI besoknya. “Saya hampir tidak mengenalimu,” Katanya. Mereka menuliskan namaku dengan versi yang tak kusangka-sangka: Hirawati.

Kedua kali masuk tipi adalah semacam hadiah tak terduga. Saya, suami dan anak-anak jalan-jalan hendak melihat masjid terapung yang baru saja rampung dibangun. 

Masjid terapung. Foto ini milik  Adik Fiqri Muttaqin. Diambil dari http://fikrimamuttaqin.wordpress.com/2012/09/04/masjid-amirul-mukminin-pesona-baru-makassar/


Sembari keliling-keliling mengagumi masjid dari berbagai sudut, tertanamlah sketsa awal puisi “Di seberang Hotel Imperial Aryaduta” di kepala. Puisi itu bernasib baik karena  akhirnya diberi kesempatan lolos di buku Komunitas Penyair Perempuan Indonesia.

Ketua KPPI ibu Yenti Nurhidayat, memperlihatkan buku Antologi Puisi 100 penyair perempuan Indonesia, di dalam mana, satu puisiku yang terinspirasi dari kunjungan ke masjid terapung, Makassar turut termuat. Foto milik http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1413105070/buku-antologi-puisi


Selain sketsa puisi, rejeki nomplok ada wartawan sedang membuat liputan Ramadhan di situ. Wartawannya kebetulan kawan bapaknya anak-anak. Sembari memandangi mereka mengatur-atur lokasi kamera, bapaknya anak-anak berbisik, “Wah, bakalan ada yang masuk tipi, nih.”

Aku melihatnya menulis-nulis sesuatu di kertas. Entah apa, wartawan yang kawannya itu mendekat, ia meminta saya diwawancarai tsebagai pengunjung masjid terapung. Saya segera menyiapkan diri.  Apa daya, saya akhirnya masuk tipi dengan penampilan sedikit lebih baik. Kostum jalan-jalan dengan keluarga tentu tidak sekusut kostum petugas pengungsian.

Waktu sang wartawan Tivi pamit, suamiku menyerahkan kertas kecil pada kawannya. “Ini nama istri saya,” Katanya. Rupanya ia juga ikut prihatin mendengarku berduka tentang nama Hirawati di syutingan pengungsian tempo hari.

Dua kali masuk tipi, kurva penampilan beranjak naik.

Ketiga kali masuk tipi, bagaimana?
Kita tunggu cerita berikutnya.

J

Sunday, 31 August 2014

Acara Permak Kasur di Hari Minggu

Hari Minggu yang cerah,
pukul delapan pagi,
seluruh bantal mejeng di teras. Sun Bathing.

Lalu di pintu pagar, masuklah sebuah motor bebek. Itu Mas Kasur yang kupesan datang pagi-pagi sudah tiba.
Dengan segera, setelah menggelar tikar dan menambahnya dengan potongan kardus, di ruang bawah rumah kami, Mas Kasur duduk menghadapi tiga buah kasur yang kupesan untuk dibuat jadi satu kasur, ukuran King.

Pret Pret Pret. Gunting menggesek kain kasur yang nampak robek dengan mudah. Kapuk terburai, serpihnya melayang ke mana-mana. "Jangan menjemur pakaian dulu, Bu." Pesan Mas Kasur sebelum bekerja tadi.

Saya ke atas memesan teh manis untuk Mas Kasur pada tante. Memindahkan kue-kue dari kaleng Khong Guan ke dalam toples. Lalu turun lagi dengan bantal-bantal tua.

"Mas, nanti ini juga diservis, ya Mas," Pesanku.

Anak-anak yang turun untuk main di halaman kuhalau kembali ke rumah. Debu kapuk sudah mengelilingi kami. Lalu mas kasur istirahat sejenak minum teh, sambil melanjut pekerjaan kami ngobrol.


Seorang anak bermain panjat kasur, satu pagi di musim dingin, di wilayah Broklyn Park, ADL.



Ngalor ngidul. Mulanya, saya bercerita tentang lokasi transmigrasi. Tentang sebuah kota kecil bernama Wonomulyo, di Sulawesi Barat. Tentang keuletan teman-teman saya yang orang Jawa dalam mencari rezeki. Lalu saya pun tahu bahwa, Mas Kasur ini ternyata sudah 15 tahun di Makassar.

Ia menceritakan hidupnya dengan gembira walaupun jika kusadari lebih jauh, pastilah berat hidup seperti Mas Kasur, terpisah jauh dari keluarga. Keluarganya diSragen, istri dan kedua puterinya.
Putrinya yang tertua, sudah masuk pesantren setingkat SMP, di sana belajar kitab kuning. Putrinya yang kedua, mau masuk SD. Sambil merawat putrinya itu, sang istri kadang bekerja sebagai buruh tani.

 Keluarga kecilnya itu belum pernah ikut ke Makassar, kecuali sang istri yang sempat datang ke Makassar. Mas Kasur baru semingguan tiba di Makassar, barusan mudik dari Jawa. Katanya, ke sana naik kapal sampai Surabaya, lalu naik bus 8 jam-an ke Sragen. Sragen Asri, kata bapaknya anak-anak yang nimbrung, ikut menambahi.

Mas Kasur, bekerja dengan gembira. Ia biasa beredar setiap hari mencari pelanggan hingga ke daerah Pakkatto', Gowa. Itu jarak yang cukup jauh dari kost-an-nya di Karuwisi. Tak lama setelah merampungkan permak kasur seharga 270 ribu rupiah, dan membuat bantal 8 biji seharga total 160 ribu, ia pamit mau ke SMA 10, sekitar Bapelkes AQntang Makassar karena mau bekerja lagi di sana.

Ia menyelesaikan pekerjaan itu sekitar 2 jam. Ketika pamit, kami meminta nomor teleponnya. Mana tau besok ada kasur mau dipermak, atau ada teman menanyakan servis kasur pula.

Lalu kami tanya namanya. "Tulis saja mas kasur, pak" Katanya pada suamiku.
"Kalo boleh namanya juga, pak, biar lebih kenal. Nanti ada mas kasur lain."Kata suamiku.

"O iya, ini ditulis saja Mas Warto. Namanya Jawa sekali toh. Pokoknya kalo nama orang jawa itu ada bunyi to, no, yem..."

O iya lah. Senang berkenalan denganmu mas Warto. Mudah-mudahan selalu dimurahkan rejeki oleh Allah SWT sehigga bisa sering-sering kunjungi keluarga di Jawa. Amin.

Thursday, 7 August 2014

Reuni 20 Tahun Ikatan Alumni '94 SMA Negeri 1 Majene


Foto bersama alumni '94 SMA Negeri 1 Majene, 31 Juli 2014. Dokumentasi milik bu Sri Hamdani.

Pekan lalu, 31 Juli 2014, anggota Ikatan Alumni ’94 SMA Negeri 1 Majene berkumpul di Restoran Dapur Mandar Pamboang untuk suatu hajatan yang dinanti-nantikan, Reuni 20 tahun lulus SMA.  Saya masih ingat bagaimana IAL dibentuk untuk pertama kalinya di rumah teman kita Andi Nurlaylah Ahmad, SH di Jl. Maccini Gusung Lr. 75E Makassar 20 tahun lalu. Waktu itu kelompok tersebut hadir sebagai jawaban atas tanggung jawab untuk meneruskan tradisi reuni tahunan yang sudah dirintis sebelumnya oleh KASS (Kerukunan Angkatan Sembilan Satu) SMA Negeri 1 Majene.

Di kelompok KASS itu, saya mengenal beberapa senior yang hingga jika ketemu sekarang pun, rasanya koq…tiba-tiba saya menjadi anak SMP lagi. Itu lantaran mereka sudah kakak kakak SMA waktu saya masih SMP. Mereka itu misalnya kak Muhammad Jaun, kak Ilman, kak Cahaya Darwis, kak Ishak Fahmi (almarhum), kak Asliah Pattola, kak Hardiah Mustafa, Kak Achiel dan kakak sekaligus simpeku di Perkumpulan beladiri Kempo Majene era 90-an, kak Rahmat.

Kembali ke IAL 94, pada rapat di rumah Lela yang, kalo tak salah ingat, dihadiri oleh Rudi, Hans, Musjad, Mirfan, Nunung, Amda, Fatmiah, Athik dan teman lain ditunjuklah ketua IAL ‘94 yang pertama yaitu teman kita Muhammad Musjad KM. Kalau tak salah, saya wakil atau sekretaris. Sementara bendaharanya adalah Ainun Mardiyah.

Rapat-rapat untuk merumuskan konsep dan proses pelaksanaan reuni alumni yang selanjutnya dilakukan di berbagai tempat. Paling sering adalah di rumah ketua IAL ‘94 waktu itu, rumahnya Musjad di BTP, Makassar. Saya masih ingat waktu itu Amjad belum bisa banyak berkontribusi sebab sedang ikut bimbingan tes (?) atau semacamnya, yang akhirnya beliau lulus masuk FK setahun setelahnya.
Rumah Musjad di BTP besar dan mewah. Saya suka sebab ada tape-nya keluaran terbaru di masa itu. Tape itu selain bisa memutar kaset,  di bagian atasnya ada ceruk khusus untuk memutar CD. Lagu-lagu yang diputar juga keren-keren; Padi, Dewa dan Iwan. Beberapa CD lain lagu-lagu barat. Keren, pokoknya. Belum lagi, kantong tengah terjamin kalau rapat di sana karena Ketua hobbi traktir orang-orang yang rapat. Asik dan asik pokoknya.

Akhirnya setelah mencari dana dengan berbekal proposal yang dibuat oleh sepupunya bendahara IAL, kak Fadilah Mindarti, yang di masa itu adalah senior saya di FK Unhas, kami pun keluar masuk kantor, mengunjungi donatur potensial. Selain itu, IAL ’94 juga menggelar beberapa bazaar, termasuk yang di Restoran Dona-Doni. Seru sekali upaya mencari dana itu. Saya ingat mengajak semua teman-teman terdekat saya dari FK untuk datang membeli kupon bazaar. Di antara yang saya bisa pastikan ikut adalah dr. Siti Nurrohmiati (saat ini tugas di Kalimantan). Saking seriusnya urus bazaar, kami lari-lari (eh.. naik becak ke sana kemari bolak balek cari tempat sholat sebab ternyata pada waktu itu, kalau tak salah, tak ada ruang untuk sholat di sekitar situ)

Walhasil, berhasil juga upaya kami untuk melaksanakan acara reuni. Sekretariat dadakan dan logistic acara di-drop dari rumahnya teman kami Fatmiah, yang tak jauh dari lokasi acara yaitu Gedung Assamalewuang. Di masa itu, dapat saya pastikan bahwa Assamalewuang masih lagi merupakan salah satu, jika bukan satu-satunya, gedung termegah di wilayah yang saat ini kita sebut Sulawesi Barat. Acara kami dimulai sekitar waktu Isya. Hadir banyak sekali tamu, di antaranya, jika tak salah adalah Bupati Majene di kala itu, Kapolres, Dandim (?) Kepala Kantor Urusan Agama, Ketua DPRD, dan tamu lain. Di antara guru-guru kami ada pak Malik (almarhum), pak Ka’do’, pak Ramadhan, ibu Chia’ (duh.. kangen sama ibu!) dan guru lain. Pak Tahir (almarhum), guru mate-matika kami dan guru favoritku, beliau tak hadir sebab rumah beliau jauh.

Acara hiburan berupa drama komedi. Lupa bagaimana ceritanya yang asli tapi tampaknya lucu sebab ada suasana mudik di atas panggung. Yang membuat terpingkal adegan seseorang mengangkat karton sebesar kulkas berjalan terbungkuk-bungkuk di terminal.

Kami memakai kostum seragam. Baju batik berwarna coklat. Karena bajunya dijahit tanpa mengukur saya, atau mungkin karena saya membesar tiba-tiba (?) maka pada malam puncak acara saya ingat lengannya kependekan dan saya seperti memakai baju orang lain. Kerepotan lainnya adalah, karena saya lupa membawa rok panjang hitam dari kampong saya yang 30km dari lokasi acara. Roknya pun berakhir seperti bajunya. Tapi ini asli, rok pinjaman dari orang lain. Hasilnya bisa diduga,  kurang lebih seperti pengungsi yang bajunya sudah hanyut semua, jadi tinggal pake baju orang. Aih sudahlah. Sudah nasib seperti itu. Lagi pula, salah sendiri, sibuk mengurusi acara dan tidak sibuk mengurusi kostum.

 Tapi acara sukses. Tampaknya, di masa itu belum lazim diperkenalkan konsep kue masuk di kantung kertas seperti hadiah, karena biasanya kue masuk ke kotak kue, seperti yang akhirnya bertahan hingga sekarang ini. Tapi kalau tak salah konsumsi di malam acara itu, khusus untuk tamu umum, dimasukkan ke  kantung kertas. Untuk tamu khusus, tampaknya pake bosara. Isinya saya lupa persisnya apa. Saya juga lupa apakah kue itu dipesan seluruhnya atau ada yang dibuat sendiri oleh kami.

Setelah acara reuni di malam itu, saya tak pernah lagi terlibat dalam reuni lainnya yang diadakan oleh angkatan lain di bawah kami. Saya jarang pulang lama sebab jadwal kuliah terlalu padat. Jangankan libur, napas aja susah di masa-masa itu. Tampaknya ada acara reuni lagi dan tampaknya tradisi reuni masih ada hingga sekarang. 

Belakangan, setelah teman-teman yang tinggal di wilayah Sulawesi Barat, khususnya yang bekerja di Majene kembali sering bertemu, saya kerap membaca kabar sejuk tentang acar kumpul-kumpul, arisan, traktiran, dan akhirnya reuni 20 tahun. Ide yang sangat baik. Sayangnya, saya hanya bisa turut berbahagia menyaksikan foto-foto dan wajah-wajah ceria dan segar teman yang berkumpul bersama hari itu, Reuni 20 tahun Ikatan Alumni (IAL) ’94, Majene. Ada ibu Sri Hamdani, pak dr. Amjad, ibu Nasriah, ibu Husnayani, ibu … bapak.. ah semua sudah berhasil. Guru-guru kita di SMA Negeri 1 Majene pastinya sangat bangga dengan murid-muridnya lulusan tahun 94. Bukan hanya sudah berhasil, tetapi pula masih tetap rukun, damai, adem, ayem. Meski ada juga yang tetap maroca’ dan ceria plus meriah seperti dulu. Iya toh?

 Dan, masih ingatkah motto IAL ‘94 yang kita rumuskan hari itu 20 tahun lalu?
 “Bersama, kita jadikan esok lebih baik”

Ini adalah esok dari hari yang 20 tahun lalu itu. Tapi karena kita masih bersama, esok yang lain pula menunggu untuk diraih.

Keep in touch, dear Friends!